Kamis, 01 Juli 2021

 

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

A.   Latar Belakang

      Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).                                                                               Deklarasi UNESCO juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuan-kemampuan itu perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan itu bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.                                                                                                                                                                    Lebih pentingnya lagi, literasi merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh  setiap siswa, karena sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah program yang diharapkan dapat menumbuhkan budaya membaca, menulis, menyimak, berbicara pada warga sekolah, baik kepala sekolah, peserta didik, dan guru yang berujung pada kemampuan mamahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga bertujuan menciptakan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajar sepanjang hayat dengan membudayakan aktivitas membaca, menyimak, menulis, dan berbicara yang baik. Keterampilan-keterampilan tersebut sangat diperlukan dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif produktif dalam menghadapi perkembangan pembelajaran Abad 21.                                                       Selain itu, pengalaman saya selama mengajar di SMPN 23 Padang, mengamati kemampuan literasi murid di sekolah saya sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dibuktikan dengan capaian hasil belajar dalam kurun semester atau per tahun, kemampuan memberi pendapat baik secara lisan maupun tulisan, dan dapat juga dilihat dari sikap seseorang yang memiliki banyak pengetahuan dan tidak.                     Bertolak dari hal di atas saya mencoba menerapkan proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya mengambil keputusan untuk mengelola sumber daya yang di miliki sekolah. Perpustakaan sebagai salah satu modal fisik harus di aktifkan kembali fungsinya. Dengan bersinergi nya unsur biotik dan abiotik di sekolah, saya merancang sebuah program yang berdampak pada murid, yaitu LITERASI DIGITAL Walaupun sebelumnya program ini sudah dilaksanakan, namun tidak secara digital dan karena beberapa faktor program ini terhenti begitu saja.

B.   Tujuan

      Tujuan aksi nyata ini di lakukan adalah menjadikan murid-murid SMPN 23 Padang memiliki kebiasaan membaca menjadi kegemaran sehingga menjadi budaya positif sekolah. Selain itu program literasi ini juga bertujuan untuk mempersiapkan murid – murid di SMPN 23 Padang menjadi murid yang reflektif, mandiri dan kompetitif serta inovarif.

C.   Rancangan tindakan untuk Aksi Nyata

      Sebelum melakukan aksi nyata, ada beberapa hal yang akan dilakukan oleh CGP yaitu, mensosialisaaikan apa itu literasi digital baik kepada guru, murid maupun orangtua, membentuk tim literasi sekolah, menyampaikan kepada murid manfaat literasi dan menjelaskan apa itu literasi digital dan bagaimana menerapkannya, menyiapkan agenda literasi, menagih hasil literasi murid, dan memberikan reward pada literatur terbaik.

D.   Deskripsi Aksi Nyata

Waktu

Kegiatan

Tujuan

Minggu ke 1 Mei 2021

         Sosialisasi literasi dan literasi digital kepada guru, murid dan orangtua (melalui wa, tatap muka)

          Menyampaikan manfaat  literasi kepada murid dan orangtua.

 

  o   Guru memahami literasi digital            dan mau menerapkannya dan              meningkatkan kemampuan                  literasinya.

   o   Murid dan orang tua                             memahami literasi dan literasi             digital

   o   Orangtua mengizinkan,                        mengawas, mengingatkan,                    bahkan ikut berliterasi.

Minggu ke 2 Mei 2021

Membentuk tim literasi sekolah

   o   Membangun kerjasama

Minggu ke 2

Mei 2021

Menyiapkan agenda literasi    

   o   Keseragaman alat dan tidak                 menimbulkan kesenjangan sosial

Setiap Sabtu

Menerima tagihan literasi murid

   o   Menumbuhkan kebiasaan

 

Memberikan reward

   o   Motivasi

 

E.   Hasil dari aksi nyata

o      1.  Tumbuh lagi satu komunitas praktisi

o       2.  Sumber daya sekolah (perpustakaan) dapat berfungsi dan dikelola kembali untuk memenuhi                    kebutuhan murid.

o        3. Berkurangnya fokus anak dari games ke literasi.

o         4. Murid mampu membuat kesimpulan/resume dari bacaannya secara tertulis maupun lisan.

o         5. Murid yang mau/rajin membaca secara tidak langsung dapat menumbuhkan motivasi murid lainnya.       (berlomba sebelum ada perlombaan)

o        6. Tumbuhnya budaya positif membaca.

o         7. Murid belajar mengelola aset pribadinya (smart phone) nya dengan baik.                       

F.    Pembelajaran yang didapat dari rencana sampai ke pelaksanaan

a.    Keberhasilan :

o   Ternyata murid SMP 23 mempunyai potensi-potensi yang belum tergali oleh sebagian besar guru.

o   Jika kita tetap bertahan dalam kesabaran namun tetap reflektif, maka akan lahirlah murid yang reflektif, mandiri, kompetitif dan inovatif.

b.    Kegagalan :

o   Kegagalan seorang guru bukanlah kegagalan seorang murid, namun kegagalan seorang murid bisa jadi kegagalan seorang guru 

G.   Tindak lanjut

o   Mewajibkan semua murid untuk berliterasi.

o   Melakukan pendekatan pada murid yang masih belum giat berliterasi.

o   Membentuk komunitas baca

o   Menampilkan hasil literasi

o   Memilih duta literasi sekolah

 

H.   Dokumentasi

Sosialisasi literasi, literasi digital dan pentingnya literasi oleh CGP pada  murid kelas VIII.3 dan VIII.5

  






         

Diskusi pembentukan tim literasi 


                                       

Aktifitas murid

   







         

 

 

                     

 

Selasa, 13 April 2021

KONEKSI ANTAR MATERI - COACHING



2.3.a.9  Pembelajaran yang berpihak pada murid – coaching      

By: Sunarti,S.Pd / CGP Kota Padang            

 

MENINGKATKAN KOMPETENSI MURID MELALUI COACHING

Anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

( Ki Hajar Dewantara )

 

     Anak lahir dengan keunikannya masing –masing. Mereka membawa kodrat yang sudah ditetapkan Tuhan kepada masing-masing mereka. Murid bukanlah kertas kosong, mereka datang dengan berbagai latar belakang yang berbeda, kemampuan yang berbeda dan potensi yang berbeda. Disinilah tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan dan melejitkan potensi murid-muridnya. Pendidik yang baik bagaikan petani. Mereka menyiapkan bahan dan lahan belajar, memelihara bibit penerus bangsa agar menjadi bibit unggul. Menyirami dengan ilmu dan memupuk jiwa  mereka dengan karakter yang luhur. Pendidik harus mencurahkan perhatian pada murid-muridnya dan memberikan tindakan untuk memenuhi kebutuhan belajar muridnya. Pendidik harus mencari tahu tentang muridnya dan merespon belajarnya berdasarkan perbedaan. Ketika pendidik terus belajar tentang keberagaman muridnya, maka pembelajaran yang professional, efisien dan efektif akan terwujud.

     Nah,. Bagaimana seorang pendidik mencari tahu tentang muridnya, apa yang dilakukan pendidik agar dapat menemukenali muridnya lalu menggali potensi mereka ? Pendidik diharapkan memiliki keterampilan yang dapat mengarahkan anak didik untuk menemukan jati diri dan melejitkan potensi mereka. Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan Coaching.

     Murid adalah sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan pembelajarannya, serta meningkatkan potensinya sendiri. Murid-murid kita hanya memerlukan dorongan dan arahan dari kita, pendidik sebagai pemimpin pembelajaran untuk melejitkan potensi mereka. Hal ini tentunya tidaklah mudah, karena sebagai pemimpin pembelajaran terkadang kita tergoda untuk membantu permasalahan murid dengan segera, Kita tidak sabar dan kasihan melihat murid kita yang berwajah murung, sehingga kita langsung memberikan solusi atau nasehat. Keterampilan coaching berpijak pada filosofi Ki Hajar dewantara, murid sudah memiliki kodratnya sendiri, murid kita sosok merdeka. Dengan coaching, anak didik kita diharapkan dapat mengidentifikasi permasalahan permasalah yang dihadapinya. Dengan arahan dan dorongan pendidik, mereka menemukan pilihan pilihan yang akan dijadikan solusi dari masalah yang mereka hadapi. Mereka dapat menyelasikan masalah sendiri. Dengan coaching mereka dapat mengenal diri sendiri, mereka akan belajar sesuai dengan kebutuhan dan cara mereka . Jika mereka sudah merasa senang dalam belajar, tinggal kitanya lagi sebagai pendidik yang harus menyiapkan lingkungan yang kondusif, memenuhi kebutuhan belajar mereka sesuai dengan keberagaman masing-masing murid. Melaui pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosisonal, kita sebagai pendidik, sebagi pemimpin pembelajaran dapat meningkatkan kemamapuan dan melejitkan potensi murid kita sehinggga mereka menjadi lebih merdeka, baik merdeka belajar maupun merdeka dalam menentukan arah hidupnya di masa mendatang.

       


 

  PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID A.    Latar Belakang       Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca...